Review Novel Babel Karya R. F. Kuang

“Aku ingin mengingat kita semua, persis pada saat ini, tahun 1837. Aku tak pernah ingin melupakannya.”
Kutipan tersebut menggambarkan salah satu tema menarik dalam novel Babel, yaitu perjalanan empat mahasiswa dari berbagai latar budaya yang belajar di Institut Penerjemahan Babel, Oxford.
Novel karya R. F. Kuang ini mengajak pembaca menyelami dunia penerjemahan pada abad ke-19, ketika bahasa menjadi instrumen penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan, kekuasaan, dan hubungan antarmasyarakat. Meskipun berlatar sejarah, novel ini tidak terasa berat karena disajikan dengan alur yang menarik dan dibumbui unsur fantasi berupa magis perak yang menjadi sumber kekuatan Babel.
Salah satu daya tarik utama novel ini adalah penggambaran penerjemahan sebagai aktivitas yang lebih dari sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Penerjemahan diposisikan sebagai jembatan budaya sekaligus sarana memahami cara pandang yang berbeda. Melalui catatan kaki, istilah asing, dan penjelasan etimologi kata, pembaca juga memperoleh wawasan mengenai perkembangan bahasa dan dokumentasi kebahasaan pada masa itu. Salah satu keunikan Babel lainnya adalah penggunaan catatan kaki yang tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga naratif. Etimologi dan asal-usul istilah dalam perbandingan antarbahasa tidak jarang mengandung ironi atau kritik sosial. Pembaca diajak untuk ikut menjadi “penerjemah” dengan menyelami makna di balik kata, menangkap nuansa yang hilang dalam terjemahan harfiah, dan merasakan bagaimana sebuah kata bisa memiliki bobot sejarah yang berat.
Babel menunjukkan bahwa sejarah tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi benang merah yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Dengan memadukan sejarah, linguistik, dan fantasi, novel ini menjadi bacaan yang menarik bagi pembaca yang ingin mengenal dunia bahasa dan penerjemahan secara lebih dekat.
Ulasan oleh Indah Fauziah Nova