Suara untuk Anak-Anak Karya Novi Setyowati

Di balik senyuman kecil dan mata polos anak-anak, tersimpan dunia penuh harapan yang kerap kali kita abaikan. Tidak semua anak memiliki ruang untuk tumbuh dengan layak. Masih banyak dari mereka yang hak-haknya direnggut—hak untuk bermain, berpendapat, bersekolah, bahkan untuk sekadar merasa aman.

Peringatan Hari Anak Internasional 2025 bukan sekadar seremonial. Ini adalah panggilan nurani—untuk mendengar suara-suara yang dibungkam, dan menghadirkan kembali ruang-ruang aman bagi masa depan bangsa. Dalam momentum ini, kami menghadirkan sebuah puisi yang menggugah dan penuh makna, berjudul “Suara untuk Anak-Anak” karya Novi Setyowati.

Sebuah seruan lirih yang mengajak kita merenung: sudahkah kita benar-benar mendengarkan mereka?

Kalau bukan kita yang menatap,

lantas dengan cara apa mereka melihat?

Saban hari, neraka menyala di mata mereka.

Entah memejam ataupun memicing,

pada akhirnya, akan terbakar jua.

Setiap apinya menjilat-jilat,

baju, celana, bahkan tawa mereka hangus membara.

Menyisakan ketelanjangan yang mencemooh tubuh mungil maharentan.

Lalu, melumuri dengan dosa-dosa yang tidak semestinya mereka terima.

 

Kalau bukan kita yang bersuara,

lantas dengan cara apa mereka bicara?

Mereka tidaklah bisu,

hanya terlalu belia memahami bahasa di luar manusia.

Segala makna yang telah tertanam perlahan mengafirkan diri dari kepala

Sebab kata dan arti tak lagi saling melengkapi.

Sentuhan menjadi bentuk ancaman.

Pelukan menjadi panas, tak menghangatkan.

Hingga, puisi-puisi penjemput mimpi

Serupa elegi kala sampai di telinga.

 

Kalau bukan kita yang melawan, 

lantas dengan cara apa mereka bertahan?

Beberapa rumah tak lagi menawarkan pulang.

Sebagian menjadi pemakaman.

Bergeming, terlampau asing.

Beranjak, kian terkoyak.

Masa kanak-kanak mereka dilenyapkan,

sedang dewasa masih niskala.

Hingga, mereka hanya mengenal lari dan berdiri

Tanpa tahu arah dan apa yang dicari

 

Tak perlu menjadi orang tua untuk menyelamatkannya

Cukup menjadi manusia

Kalau bukan kita yang melangkah,

lantas dengan cara apa mereka berjalan?

Kaki mereka masih terlalu kecil

untuk melewati luka yang sedemikian lebar.

 

Tentang Penulis:

Novi Setyowati adalah pendidik dan penulis sastra yang aktif menulis puisi, cerpen, dan esai bertema kemanusiaan dan pendidikan. Beberapa karyanya telah dibukukan dan diterbitkan. Bagi Novi, menulis dan mengajar adalah dua cara untuk menyuarakan nilai, empati, dan harapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *